Pesugihan tuyul
Tuyul sering menjadi sasaran tertuduh utama dari sekian kasus hilangnya sejumlah uang dan perhiasan secara misterius. Namun karena tidak setiap orang berani atau bisa menangkap tuyul, sejumlah orang kemudian berupaya untuk sekadar membuat penangkalnya. Di zaman sekarang, penangkal gaib atau pagar gaib bisa di pesan dari paranormal. Namun ketika dunia paranormal belum terbuka seperti sekarang, menangkap tuyul dilakukan secara tradisional.
Masyarakat jawa islam, sejak dulu mempercayai dengan meletakan kitab suci Al Qur’an di atas tempat penyimpanan uang dan perhiasan akan membuat tuyul takut mendekat. Di lereng barang gunung lawu surakarta jawa tengah di kenal ada cara tradisonal untuk menangkal tuyul dengan menaruh ikan dalam air atau akuarium dan menaruh bawang merah. Beberapa lainnya ada yang menambahkan bawang merah itu dengan jarum dan sejumput garam dapur
Masyarakat sunda jawa barat meyakini beberapa helai rambut putih seorang nenek yang suka sirih atau membuang atau menginang atau susur manpu membuat takut makluh halus spesialispenciri uang dan perhiasan bernama tuyul itu.
Secara umum di jawa ada juga kepercayaan yang mengatakan dengan melakukan puasa ngebleng selama tiga hari dan pada tengah malam terakhir tidur di depan pintu rumah akan melihat sosok mistis tuyul. Bahkan, bila cukup bernyali bisa juga menangkapnya.
Kepercayaan masyarakat jawa tempo dulu juga mengatakan cara lain untuk menangkap tuyul bisa dilakukan dengan memancing diperempatan jalan sepi. Caranya dengan duduk di tengah perempatan jalan diatas siwur atau gantung, yakni ciduk air yang terbuat dari batok kelapa pada jam 2 belas malam atau lebih. Gantung atau siwur itu. Syaratnya juga harus di dapat dari mencuri.
Tuyul dipercaya paling suka dengan kepiting. Bila bertemu dengan kepiting. Tuyul akan bermain-main dengan binatang itu dan lupa akan tugasnya. Karena itu kepiting sering digunakan untuk menjebak tuyul.
Sama halnya dengan uang yang susah di cari, tetapi mudah membuangnya. Tuyul juga demikian. Sebab untuk bisa memiliki tuyul itu, seringkali seseorang harus menjalani laku tirakat yang cukup berat. Tentu saja, cara berat ini di luar dari cara memiliki tuyul dengan membeli dari paranormal atau menukar dengan mahar. Tetapi memperoleh tuyul dengan laku tirakat dipandang lebih terjamin mutu. Tuyul yang bisa di buang tanpa resiko inilah kelebihan lain dari jenis pesugihan khadam tuyul ini. Berbeda dengan pesugihan nyai blorong yang konon akan menumpas habis keturunan majikannya bila nyai blorong itu dicampakan.
Tidak semua pemburuan tuyul harus dijalani dengan laku tirakat. Pemburuan tuyul juga bisa dilakukan di banyak tempat. Semisalnya di watu keprak, dusun mencil kelurahan glonggong kecamatan nogosari boyolali, jawa tengah. Watu keplak aalah sebutan untuk sebongkah batu besar hampir seukuran cungkup makam. Batu hiotamn yang tak diketahui darimana asalnya itu, sudah ribuan tahun silam teronggok di tengah persawahan dusun mencil. Sejak nenek moyang dusun setempat, batu itu dikenal wingit demikian pula dengan dua buah batu yang berukuran hampir sama yang terletaj saling berjauhan.
Watu keprak di kenal orang hingga sekarang tak lain karena batu besar itu menjadi tujuan sejumlah orang dari berbagai daerah yang hendak mencari pesugihan dengan memelihara tuyul.
|
|
|
|
![]() |
