Home arrow artikel arrow perator Perang Tarif, Konsumen Jadi Korban
Advertisement

Produk Populer

Google PR module

Yahoo! Site Explorer Links

Links to Site
Get This Button

jumlah pengunjung

Your Ad Here

Daftar Menjadi Anggota.

Daftarkan segera Diri Anda Untuk Mengakses Artikel Istimewa dan kursus online secara gratis





Lost Password?
No account yet? Register
Your Ad Here

Costumer Service

Kami siap membantu anda

Punya kendala seputar transaksi atau ingin konfirmasi apapun, silahkan pilih salah satu jalur ini:

(021)95113334   (021)95113334 08567388283

zonanetral@gmail.com   zonanetral@gmail.com

   Yahoo! Messenger:

CS1:  zonanetral2

CS2:  zonanetral

Artikel Sufi

dunia komputer

dunia ponsel

Add to netomat Hub

perator Perang Tarif, Konsumen Jadi Korban PDF Print
 

By Yoddy Hendrawan, on 13-03-2008 08:05

Views : 346    

Favoured : 10

Published in : artikel, Aneh Tapi Nyata


Persaingan iklan tarif antar operator seluler di tanah air kian gencar, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai "perang tarif". Hampir setiap hari iklan-iklan tarif menggiurkan di-up date. Mulai dari tarif termurah, muraah bangeetss sampai gratisan ke sesama operator. Bahasa iklan yang boombastis dan persuasif semacam itu membawa dampak psikologis yang luar biasa bagi konsumen. Ujungnya, tanpa disadari konsumen justru menjadi korban iklan tersebut.

Fenomena perang tarif yang begitu booming, tidak sekedar untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya, namun lebih mengarah pada profit oriented bagi perusahaan itu sendiri. Provider berlomba-lomba memanipulasi tarif sedemikian rupa hingga harga yang dipatok terkesan murah dan menguntungkan penggunanya.

Padahal jika melihat lebih dalam, berbagai persyaratan yang berlaku di masing-masing operator pada intinya hitungannya hampir sama, antara tarif normal per menit dengan tarif murah per detik. Terlebih, ada aturan mainnya di san, dalam arti ada sederet persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tarif murah tersebut. Misalnya, dengan tarif per detik kurang dari satu rupiah setelah penggunaan telepon minimal sekian menit pertama. Itu artinya, pada menit awal pengguna harus membayar dengan tarif normal yang relatif besar, baru kemudian mendapatkan potongan biaya pada menit berikutnya. Dengan kata lain, jika konsumen menelpon kurang dari menit awal yang ditentukan, maka aturan main itu tidak berlaku.

Sementara selama ini konsumen awam cenderung menelan mentah-mentah informasi itu sehingga menganggap bahwa permainan harga tersebut sangat murah dan menguntungkan. Akhirnya, penggunaan pulsa telepon membengkak dan tak terkendali. Di sinilah secara tidak sadar konsumen telah menjadi "korban perang tarif".

Mengapa demikian? Pertama, bisa saja sebenarnya kepentingan konsumen untuk menelpon hanya sekedar say hello atau ngerumpi dengan teman mumpung tarifnya murah. Jadi mereka menelpon bukan berdasarkan kebutuhan. Kedua, ada sebagian konsumen yang sengaja berganti-ganti simcard demi mendapatkan tarif murah. Padahal biasanya simcard hanya sekali pakai. Hal itu tergolong pemborosan dan mendorong orang berperilaku konsumtif.

Di samping itu, provider sendiri sengaja memanfaatkan situasi ini untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dari konsumen. Bukan rahasia jika orang Indonesia tergolong masyarakat konsumtif sehingga memudahkan para pelaku bisnis untuk melebarkan sayap mereka dan mengeruk laba yang lebih menggiurkan dari sekedar iklan yang mereka pasang di media.

Ketiadaan standar harga yang ditetapkan oleh sesama provider juga menjadi pemicu maraknya persaingan antarkompetitor. Ironisnya, kadang persaingan terkesan tidak sehat, karena saling menjatuhkan. Contohnya, pvider A menawarkan tarif nol koma sekian rupiah per detik, lebih murah dari tarif provider B. Hari berikutnya, provider B menawarkan tarif yang lebih spektakuler dengan menambahkan kata-kata sindiran kepada produk A.

Agaknya masyarakat sebagai konsumen perlu selektif dalam mencerna informasi dari iklan-iklan semacam itu. Caranya, dengan menggunakan produk berdasarkan kebutuhan, bukan penawaran atau pun trend. Pada dasarnya setiap produk memiliki kelebihan dan kekurangan berbeda-beda, sehingga konsumen bisa memilih produk mana yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

 

sumber: wikimu.com

Recommend this article...


Last update : 13-03-2008 08:05

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
Joomla! is free software released under the GNU/GPL-License.
Joomla Template Design Copyright Kanga Internet 2008
website design | seo company | online marketing | melbourne web designers | content management | internet marketing australia